MAKALAH
GEOGRAFI REGIONAL DUNIA
NEGARA BHUTAN
Makalah
ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Geografi Regional Dunia
Dosen
Pembimbing: Sodikin,M.Si
Nama : Syifa Nurma Handayani
Kelas : 1113015000081
Kelas : 4A
PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2014
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum
Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT,
yang senantiasa melimpahkan Rahmat dan Hidayah – Nya kepada kita, shalawat
serta salam selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Semoga
safaatnya mengiringi kita di hari akhir nanti. Amiin.
Kami mengucapkan terima kasih kepada
Bapak Sodikin selaku dosen mata kuliah Geografi Regional Dunia pada jurusan
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membimbing kami, sehingga kami dapat
menyusun makalah Geografi Regional Dunia dengan judul “Negara Bhutan ” ini dengan baik.
Kami selaku penyusun mohon maaf
apabila ditemukan beberapa kesalahan. Kritik dan perbaikan serta penilaian
terhadap makalah ini kami butuhkan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi saya dan
pembaca. Amin
Wassalamu’alaikum
Wr. Wb.
Ciputat, Juni 2015
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR.............................................................................................................. i
DAFTAR ISI........................................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
masalah...................................................................................................... 1
1.2
Rumusan masalah............................................................................................................... 2
1.3
Tujuan Penulis.................................................................................................................... 2
1.4
Manfaat ............................................................................................................................. 2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah................................................................................................................................ 3
2.2 Kondisi Geografis.............................................................................................................. 5
2.3 Kondisi Kependudukan..................................................................................................... 8
2.4 Kondisi Perekonomian .................................................................................................... 11
2.5 Kegiatan Pariwisata...........................................................................................................13
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan....................................................................................................................... 16
3.2 Saran................................................................................................................................. 16
Daftar
Pustaka.........................................................................................................................17
1.1
Latar Belakang
Masalah
Bhutan
ini negara kecil dengan populasi manusia yang belum jelas,
mereka tidak pernah nmengadakan sensus penduduk secara serius, jumlah
penduduknya diperkirakan 700.000 hingga 1.500.000 orang. Data terahir dari U.N
sih 2,3 juta orang. Menurut Wikipedia, Bhutan ini dibatasi 2 negara atau
“ landlocked” berbatasan langsung dengan India dan China. Berada di kaki
pegunungan Himalaya, menjadikan Bhutan negara yang berbukit-bukit,
Kawasan utara terdiri atas busur puncak pegunungan yang terglasialkan
dengan iklim yang amat dingin pada ketinggian tertinggi. Sebagian besar puncak
di utara lebih dari 23.000 kaki (7.000 m) dpl; titik tertinggi dinyatakan sebagai Kula Kangri, pada 24.780 kaki (7.553 m), namun studi topografi terperinci
menyatakan bahwa keseluruhan Kula Kangri ada di Tibet dan pengukuran RRT modern menyatakan bahwa Gangkhar
Puensum, yang istimewa sebagai pegunungan
tertinggi yang tak terdaki di dunia,
lebih tinggi dari 24.835 kaki (7.570 m). Dialiri oleh sungai
bersalju, lembah pegunungan tinggi di kawasan ini menyediakan padang
rumput untuk ternak, dipelihara
oleh populasi penggembala migrator yang kurang. Pegunungan
Hitam di Bhutan tengah membentuk
badan air antara 2 sistem air utama: Mo Chhu dan Drangme Chhu. Puncak-puncak di Pegunungan Hitam berkisar antara 4.900 hingga 8.900 kaki
(1.500 dan 2.700 m) dpl, dan sungai beraliran cepat telah membentuk
jurang yang dalam di jajaran pegunungan yang lebih rendah.
Iklim di Bhutan bervariasi menurut ketinggian, dari subtropis
di selatan hingga sedang di dataran tinggi dan iklim tipe
kutub, dengan salju sepanjang tahun, di
utara. Bhutan mengalami 5 musim yang berbeda: panas, monsun, gugur, dingin, dan semi. Hujan monsun di Bhutan barat lebih lebat; musim panas di
Bhutan selatan kering dan panas serta musim salju yang dingin.
Peralatan, senjata, dan sisa dari batu membuktikan bahwa Bhutan telah
dihuni sejak awal 2000 SM. Para sejarawan telah berteori bahwa negara Lhomon (harfiah,
"kegelapan dari selatan"), atau Monyul ("Tanah
Gelap", Referensi pada Monpa, penduduk asli Bhutan) sudah ada
antara 500 SM dan 600 M. Nama Lhomon Tsendenjong (Negeri Cendana), dan Lhomon
Khashi, atau Mon Selatan (negeri 4 tujuan) telah ditemukan dalam kronik
Bhutan dan Tibet kuno.
1.2
Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah
sejarah Bhutan Kongo?
2. Bagaimana
kondisi geografisnya?
3. Bagaimana
kondisi kependudukanya?
4. Bagaimana
kondisi perekonomiannya?
5. Apa
kegiatan pariwisatanya?
1.3
Tujuan Penulisan
1. Dapat
mengetahui sejarah dari Negara tersebut
2. Dapat
mengetahui kondisi geografis dari Negara tersebut
3. Dapat
mengetahui bagimana kondisi kependudukan dari engara tersebut
4. Dapat
mengetahui kondisi perekonomian Negara tersebut
5. Dapat
mengetahui apa saja tempat pariwisata yang ada dinegara tersebut
6. Dapat
menambah wawasan serta pengetahuan kita
1.4. Manfaat
Dalam penulisan
makalah “Geografi Regional Dunia”
bertujuan untuk menambah wawasan baik penulis sendiri dan pembaca
dalam proses pembelajaran ke arah yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Bagi pembaca pada umumnya juga semoga
karya tulis ini dapat dijadikan referensi dalam hal Pembelajaran Negara
Bhutan
2.1 SEJARAH BHUTAN
Sejarah Bhutan
Peralatan, senjata, dan sisa dari batu membuktikan bahwa Bhutan telah
dihuni sejak awal 2000 SM. Para sejarawan telah berteori bahwa negara Lhomon (harfiah,
"kegelapan dari selatan"), atau Monyul ("Tanah
Gelap", Referensi pada Monpa, penduduk asli Bhutan) sudah ada
antara 500 SM dan 600 M. Nama Lhomon Tsendenjong (Negeri Cendana), dan Lhomon
Khashi, atau Mon Selatan (negeri 4 tujuan) telah ditemukan dalam kronik
Bhutan dan Tibet kuno.
Peristiwa
tertulis paling awal di Bhutan adalah lewatnya tokoh suci Buddha Padmasambhava
(juga disebut Guru
Rinpoche) pada abad ke-8. Sejarah awal Bhutan tidak jelas, karena sebagian besar
catatan telah musnah setelah kebakaran di Punakha, ibukota kuno pada 1827. Dari
abad ke-10, perkembangan politik Bhutan amat dipengaruhi oleh sejarah
religiusnya. Berbagai anak sekte Buddha muncul yang dilindungi oleh berbagai
maharaja Mongol dan Tibet. Setelah runtuhnya bangsa Mongol pada abad ke-14,
anak-anak sekte itu bersaing satu sama lain demi supremasi dalam bentang
politik dan agama, akhirnya menimbulkan naiknya anak sekte Drukpa di akhir abad
ke-16.
Hingga abad
ke-17, Bhutan ada sebagai fiefdom yang saling berperang hingga
dipersatukan oleh lama Tibet dan pemimpin militer Shabdrung Ngawang Namgyal. Untuk
mempertahankan negerinya dari penggarongan yang sebentar-sebentar dilakukan
bangsa Tibet, Namgyal membangun sebuah jaringan dzong (benteng) tak terkalahkan,
danmengumumkan kode hukum yang membantu membawa raja-raja setempat di bawah kendali
terpusat. Banyak dari dzong itu yang masih ada. Setelah
kematian Namgyal pada 1651, Bhutan jatuh dalam suasana anarkis. Mengambil
keuntungan dari kekacauan itu, orang Tibet menyerang Bhutan pada 1710, dan
kembali pada 1730 dengan bantuanorang Mongol. Kedua serang
itu berhasil digagalkan, dan gencatan
senjata ditandatangani pada 1759.
Pada abad
ke-18, Bhutan menyerang dan menduduki Kerajaan Cooch Behar di selatan. Pada 1772,
Cooch Behar meminta British East India Company yang
membantu mereka dalam mengusir orang Bhutan, dan kemudian dalam menyerang
Bhutan sendiri pada 1774. Sebuah perjanjian damai ditandatangani di mana Bhutan
setuju mundur dari perbatasannya sebelum 1730. Namun, perdamaian itu renggang,
dan pertempuran perbatasan dengan Inggris berlangsung hingga ratusan tahun
berikutnya. Akhirnya pertempuran itu menimbulkan Perang Duar (1864–1865), konfrontasi
atas mereka yang akan mengendalikan orang Duar dariBenggala. Setelah Bhutan
kalah perang, Perjanjian Sinchula ditandatangani antara India Britania dan
Bhutan. Sebagai bagianpemulihan perang, bangsa Duar diserahkan kepada Kerajaan Bersatu Britania Raya dan
Irlandia dalam pertukaran sewa Rs. 50,000. Perjanjian itu mengakhiri
semua permusuhan antara India Britania dan Bhutan.
Selama 1870-an,
perjuangan kekuatan antara lembah saingan Paro dan Trongsa menimbulkan perang
saudara di Bhutan, akhirnya menimbulkan naik tahtanya Ugyen
Wangchuck, ponlop (gubernur) Tongsa. Dari basis kekuataanya di
Bhutan tengah, Ugyen Wangchuck mengalahkan para musuh politiknya dan mempersatukan
negeri ini menyusul beberapa perang saudara dan pemberontakan antara 1882–1885.
Pada 1907,
tahun penting di negri ini, Ugyen
Wangchuck dipilih dengan suara bulat sebagai raja pusaka negeri ini oleh
majelis rahib Buddha, pejabat pemerintahan, dan kepala keluarga penting yang
menonjol. Pemerintah Britania menyetujui dengan cepat monarki baru ini, dan
pada 1910 Bhutan menandatangani perjanjian yang membuat Britania Raya ‘memandu’
urusan luar negeri Bhutan.
Setelah India mendapatkan kemerdekaan dari Britania
Raya pada 15 Agustus 1947, Bhutan menjadi salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan India.
Setelah
Britania meninggalkan kawasan ini, sebuah perjanjian yang mirip dengan yang
pada tahun 1910 diandatangani pada 8 Agustus 1949 dengan
India yang baru merdeka.
Setelah Pasukan Pembebasan Rakyat RRT memasuki Tibet pada
1951, Bhutan menyekat perbatasan utaranya dan mengembangkan hubungan bilateral
dengan India. Untuk mengurangi risiko gangguan RRT, Bhutan memulai program
modernisasi yang didukung sepenuhnya oleh India. Pada 1953,
Raja Jigme Dorji Wangchuck mendirikan badan pembuat UU
di negeri itu– Majelis Nasional beranggotakan 130 orang– untuk meningkatkan bentuk pemerintahan yang
lebih demokratis. Pada 1965, ia mendirikan Dewan Penasihat Kerajaan, dan pada
1968 ia membentuk kabinet. Pada 1971, Bhutan memasuki PBB, setelah
memegang kedudukan pengamat selama 3 tahun. Pada Juli 1972, Jigme Singye Wangchuck naik
tahta pada usia 16 setelah kematian ayahandanya Dorji Wangchuck.
Sejak 1988,
para imigran Nepal begitupun imigran gelap telah mendakwa Bhutan melanggar HAM. Mereka
mengatakan bahwa pemerintah Bhutan bertanggung jawab atas kejahatan perang dan
kejahatan terhadap penduduk minoritas penutur bahasa Nepalnya. Dugaan itu tetap
tak terbukti dan dengan suara keras disangkal pihak Bhutan. Sebagian besar para
pengungsi itu tinggal di kamp pengungsian yang dibuat PBB di Nepal tenggara di
mana mereka tetap di sana selama 15 tahun.
Pada 1998,
Raja Jigme Singye Wangchuck memperkenalkan
reformasi politik signifikan, memindakan sebagian besar kekuasaannya
kepada PM dan mengizinkan panggilan pertanggungjawaban pada raja oleh dua
pertiga mayoritas Majelis Nasional. Di akhir 2003, tentara Bhutan berhasil meluncurkan operasi skal besar untuk meredam para pengacau
anti-India yang menjalankan kamp pelatihan di Bhutan selatan.
Pada 1999, sang Raja juga mencabut larangan TV dan Internet, membuat Bhutan
salah satu dari negara terakhir yang memperkenalkan TV. Dalam pidatonya, ia
berkata bahwa TV adalah langkah penting buat modernisasi Bhutan seperti
sumbangan utama pada Kebahagiaan Nasional Bruto negeri ini (Bhutan ialah satu-satunya negara yang mengukur kebahagiaan)
namun memperingatkan penyalahgunaan TV yang bisa menggerus nilai-nilai
tradisional Bhutan
2.2 KONDISI
GEOGRAFIS
Kondisi Bhutan
Letak
Astronomi Bhutan Terletak di asia selatan bagian tengah pada 26 derajat 45 derajat
- 28 derajat LU 89 derajat - 92 derajat BT
Letak
Geografi Bhutan
Kawasan utara terdiri atas busur puncak pegunungan yang terglasialkan
dengan iklim yang amat dingin pada ketinggian tertinggi. Sebagian besar puncak
di utara lebih dari 23.000 kaki (7.000 m) dpl; titik tertinggi dinyatakan sebagai Kula Kangri, pada 24.780 kaki (7.553 m), namun studi topografi terperinci
menyatakan bahwa keseluruhan Kula Kangri ada di Tibet dan pengukuran RRT modern menyatakan bahwa Gangkhar
Puensum, yang istimewa sebagai pegunungan
tertinggi yang tak terdaki di dunia,
lebih tinggi dari 24.835 kaki (7.570 m). Dialiri oleh sungai
bersalju, lembah pegunungan tinggi di kawasan ini menyediakan padang
rumput untuk ternak, dipelihara
oleh populasi penggembala migrator yang kurang. Pegunungan
Hitam di Bhutan tengah membentuk
badan air antara 2 sistem air utama: Mo Chhu dan Drangme Chhu. Puncak-puncak di Pegunungan Hitam berkisar antara 4.900 hingga 8.900 kaki
(1.500 dan 2.700 m) dpl, dan sungai beraliran cepat telah membentuk
jurang yang dalam di jajaran pegunungan yang lebih rendah. Hutan di kawasan
tengah menyediakan sebagian besar produksi hutan di Bhutan. Torsa, Raidak, Sankosh, dan Manas ialah sungai-sungai utama di Bhutan, mengalir melalui kawasan ini.
Sebagian besar penduduk tinggal di dataran tinggi tengah Di selatan, Perbukitan Shiwalik ditutupi dengan hutan yang lebat dan selalu berganti daun, lembah-lembah sungai dataran rendahaluvial, dan pegunungan setinggi 4.900 kaki (1.500 m) dpl. Kaki
bukit menurun ke dataran Duar yang bersifat subtropis. Sebagian besar Duar
terletak di India, meski garisnya meluas 6–9 mil (10–15 km) ke
Bhutan. Duar yang ada di Bhutan terbagi atas 2 bagian: Duar utara dan selatan. Duar
utara, yang berbatasan dengan kaki bukit Himalaya, memiliki dataran yang kasar
dan miring serta tanah yang kering dan keropos dengan vegetasi yang jarang dan margasatwa yang banyak.
Duar selatan memiliki tanah yang agak subur, rumput sabana yang lebat, hutan yang lebat dan bercampur serta sumber
air panas. Sungai pegunungan, yang didapat dari salju membeku atau hujan
monsun, mengalir ke sungai Brahmaputra di India. Data yang diluncurkan oleh Kementerian
Pertanian menunjukkan bahwa negeri ini memiliki hutan sekitar 64% per Oktober
2005.
Batas
Wilayah Bhutan Negara ini berbatasan dengan India di sebelah selatan dan Cina di sebelah
utara
Iklim
Bhutan
Iklim
di Bhutan bervariasi menurut ketinggian, dari subtropis di selatan hingga sedang di dataran tinggi dan iklim tipe
kutub, dengan salju sepanjang tahun, di
utara. Bhutan mengalami 5 musim yang berbeda: panas, monsun, gugur, dingin, dan semi. Hujan monsun di Bhutan barat lebih lebat; musim panas di
Bhutan selatan kering dan panas serta musim salju yang dingin; Bhutan tengah
dan timur beriklim sedang dan lebih kering daripada di barat dengan musim panas
yang hangat dan musim salju yang dingin
Bentang
Alam Bhutan
Bhutan ini dibatasi 2 negara atau “ landlocked” berbatasan
langsung dengan India dan China. Berada di kaki pegunungan Himalaya, menjadikan
Bhutan negara yang berbukit-bukit.
Demografi
Penduduk Bhutan, pernah diperkirakan beberapa juta, telah dikurangi oleh
pemerintah Bhutan hingga 750,000, setelah sebuah sensus di awal 1990-an. Sebuah
sesnsus lanjutan yang dilakukan pada Juni 2005 mengurangi jumlah penduduk lebih
lanjut dari 672.425 [3]. Pemerintah belum pernah meluncurkan rincian demografis jumlah penduduk
kini. Kebanyakan orang percaya bahwa penduduknya sengaja terbumbung pada
1990-an karena persepsi lebih awal bahwa bangsa dengan berpenduduk kurang dari
sejuta takkan diakui oleh PBB. Karena itu jumlah penduduk PBB lebih tinggi daripada jumlah yang
disediakan oleh pemerintah. CIA World Factbook memberikan jumlah penduduk
2.279.723 (dari Juli 2006) yang juga mencatat bahwa beberapa perkiraan kurang
dari 810.000.
Kepadatan
penduduk, 45 km persegi (117/mil. persegi), membuat Bhutan negeri
paling jarang pendudunya di Asia. Sekitar 20% penduduknya tinggal di wilayah
perkotaan yang terdiri atas kota-kota kecil sepanjang lembah tengah dan
perbatasan selatan. Persentase ini berkembang pesat karena langkah untuk
migrasi perkotaan telah diambil. Kota terbesar ialah Thimphu, ibukota, yang
berpenduduk 50.000. Daerah perkotaan lain berpenduduk padat adalah Paro dan Phuentsholing.
Di antara orang
Bhurtan, beberapa kelompok etnis penting diistimewakan. Kelompok dominan
adalah Ngalop, sekelompok penganut Buddha yang
tinggal di bagian barat negeri ini. Budaya mereka berkaitan erat dengan budaya
Tibet. Begitupun Sharchop ("Orang Timur"),
yang dikaitkan dengan bagian timur Bhutan (namun secara tradisional
mengikuti Nyingmapa daripada bentuk Drukpa Kagyu yang
resmi dariAgama Buddha Tibet). Kedua kelompok itu disebut orang Bhutan. 15% sisanya
adalh etnis Nepal, sebagian besar Hindu.
Bahasa nasional
adalah Dzongkha, salah satu dari 53 bahasa dalam keluarga bahasa Tibet. Tulisannya, disebut Chhokey ("Bahasa Dharma"),
identik dengan tulisan Tibet. Pemerintah mengelompokkan 19 bahasa-bahasa
terkait di sana sebagai dialek bahasa
Dzongkha.Lepcha diucapkan di barat
Bhutan; Tshangla, kerabat dekat Dzongkha,
diucapkan meluas di bagian timur. Khengkha diucapkan di tengah
Bhutan. bahasa
Nepal diucapkan meluas di selatan. Di sekolah bahasa Inggris ialah media
instruksi dan Dzongkha diajarkan sebagai bahasa resmi. Ethnologue mendaftarkan 24 bahasa yang kini diucapkan di Bhutan, semuanya dari
keluarga Tibet-Burma, kecuali Nepal, sebuahbahasa
Indo-Arya. Bahasa-bahasa di Bhutan tetap tak terciri dengan baik, dan beberapa buah
belum tercatat dalam tatabahasa akademis. Bahasa
Inggris juga punya kedudukan resmi kini.
Tingkat melek
huruf hanya 42,2% (56,2% pria dan 28,1% wanita). Orang berusia 14 dan yang
lebih muda menyusun 39,1%, sedangkan orang berusia 15 dan 59 menyusun 56,9%,
dan yang di atas 60 hanya 4%. Negeri ini memiliki usia rata-rata 20,4 tahun.
Bhutan memiliki harapan
hidup 62,2 tahun (61 untuk pria dan wanita 64,5) menurut data terakhir
dari Bank Dunia. Ada 1.070 pria dari setiap 1.000 wanita di negeri ini.
Peta
Bhutan
2.3 KONDISI
KEPENDUDUKAN
Bhutan
Jumlah
Penduduk Bhutan
Bhutan
ini negara kecil dengan populasi manusia yang belum jelas,
mereka tidak pernah nmengadakan sensus penduduk secara serius, jumlah
penduduknya diperkirakan 700.000 hingga 1.500.000 orang. Data terahir dari U.N
sih 2,3 juta orang. Menurut Wikipedia, Bhutan ini dibatasi 2 negara atau
“ landlocked” berbatasan langsung dengan India dan China. Berada di kaki pegunungan
Himalaya, menjadikan Bhutan negara yang berbukit-bukit,
Ras,
Suku dan agama di Bhutan
Suku Monba, berbicara
dalam bahasa mereka sendiri, yaitu bahasa Monba, yang diasumsikan sebagai
bagian dari keluarga bahasa Tibeto-Burman, bahasa terpisah dari klaster
Tibetic. Bahasa Monba biasanya ditulis dengan huruf Tibet. Pada dasarnya orang Monba adalah penganut Gelug, salah satu sekte agama
Buddha Tibet, yang diadopsi pada abad 17, oleh pengaruh Bhutanese-educated
Merag Lama. Namun demikian, keyakinan asli mereka seperti Bon, unsur-unsur Pre-Buddish
Faith (Iman pra-Buddha) yang sering juga disebut "Bon" tetap
kuat di antara orang Monba, terutama di daerah dekat ke dataran Assam. Di
setiap keluarga Monba, terlihat khas sebuah altar kecil Buddha.
Pemerintahan
Pemerintahan yang dijalankan dengan kekuasaan monarki
absolut berakhir ketika konstitusi
baru dan pemilihan perdana menteri dilaksanakan. Raja Jigme Singye Wangchuck yang memimpin sejak tahun 1972 mengumumkan menggelar pemilu tahun 2008, sekaligus turun tahta. Pengumuman disampaikan dihadapan
8.000 penggembala hewan yak, biksu, petani, dan siswa pedesaan pada 18
Desember 2005. Pengumuman disebarkan melalui harian Kuensel. Sebelumnya, raja memperkenalkan rancangan konstitusi dan
menyatakan pensiun pada usia 65 tahun. Atas ide ini, sebagian rakyat tidak
sependapat karena kuatir terjadinya praktik korupsi,kolusi, dan nepotisme (KKN), namun pada tahun 2006 sang raja mengundurkan diri dan digantikan oleh
puterandanya.
Kebudayaan Bhutan
Saat warganya dipandang bebas bepergian keluar negeri, Bhutan sering tak
terjangkau orang asing. Kesalahan gambaran meluas bahwa Bhutan telah membatasi
visa turis, tarif yang tinggi, dan permintaan pergi dengan tur paket nampaknya
menciptakan kesan ini.
Pakaian
tradisional buat lelaki Ngalong and Sharchop adalah gho, jubah sepanjang lutut yang
diikatkan di pinggang dengan sabuk pakaian yang dikenal sebagai kera. Wanita
mengenakan gaun sepanjang pergelangan kaki, kira, yang dijepit
di bahu dan diikatkan di pinggang. Kira dipadukan dengan blus lengan
panjang, toego, yang dikenakan di bawah lapisan luar. Kedudukan dan
kelas sosial menentukan tekstur, warna, dan dekorasi yang menghiasi pakaian.
Selendang dan syal juga penanda kedudukan sosial, karena secara tradisional
Bhutan adalah masyarakat feodal. Anting-anting
dikenakan oleh wanita. Yang menjadi perdebatan, kini hukum Bhutan mengizinkan
pakaian ini buat semua warganya.
Nasi, dan lebih
banyak lagi jagung, adalah makanan pokok negeri itu. Makanan di perbukitan kaya akan protein
karena konsumsi daging, khususnya unggas, yak and daging
sapi. Sup daging, nasi, dan sayuran yang dikeringkan yang dibumbui dengan cabai
dan keju adalah makanan favorit selama musim dingin. Makanan susu, khususnya
mentega dan keju dari yak dan sapi, juga terkenal, dan memang hampir semua susu
diubah menjadi mentega dan keju. Minuman terkenal termasuk teh mentega, teh, anggur nasi yang dimasak
dan bir. Bhutan adalah satu-satunya negara di dunia yang telah melarang rokoq dan penjualan tembakau.
Memanah ialah olahraga nasional Bhutan dan perlombaan dilaksanakan secara
teratur.
Olaraga nasional Bhutan adalah memanah, dan kompetisi
diadakan secara teratur di sebagian desa, yang berbeda dengan standarOlimpiade yang tak
hanya dalam rincian teknis seperti penempatan sasaran dan suasana. Ada 2
sasaran yang ditempatkan lebih dari 100 meter jauhnya dan tem menembak dari
satu ujung ke ujung lain. Setiap anggota tim menembak 2 panah per putaran.
Olahraga memanah tradisional Bhutan adalah peristiwa sosial dan kompetisi
diatur antara desa, kota, dan tim amatir. Biasanya banyak makanan dan minuman
lengkap dengan cheerleader menyanyi dan menari yang terdiri
atas para pendukung tim yang ikut serta dengan istri-istrinya. Percobaan untuk
mengganggu lawan termasuk berdiri di sekitar sasaran dan melucui kemampuan
penembak. Anak panah (khuru) adalah olahraga tim yang sama populer, di
mana anak panah dari kayu yang berat yang ditunjuk dengan paku 10 cm
dilemparkan ke sasaran seukuran kertas 10–12 m jauhnya.
Olahraga
tradisional lainnya adalah digor, yang bisa
dikatakan sebagai lempar peluru yang
digabungkan dengan pelemparan ladam.Sepak bola adalah olahraga yang lagi populer. Pada 2002, tim nas ionalBhutan
bermain dengan Montserrat - diumumkan sebagai 'Final Lainnya', pertandingan terjadi saat Brasil
melawan Jerman dalam Final Piala Dunia, namun saat itu Bhutan dan Montserrat
adalah 2 tim berperingkat rendah dunia. Pertandingan itu diselenggarakan
di Stadion Nasional Changlimithang Timphu, dan Bhutan menang 4-0. Sebuah dokumenter pertandingan dibuat
oleh pembuat film Belanda Johan Kramer. Rigsar adalah gaya musik populer
yang kini marak, dimainkan dengan campuran instrumen tradisional dan papan tuts
elektronik yang berasal dari awal 1990-an; menunjukkan pengaruh musik pop
India, bentuk campuran pengaruh pop tradisional dan Barat. Jenis tradisional
termasuk zhungdra dan boedra.
Chaam atau tari topeng ialah tarian mistik yang dipertunjukkan selama
festival Buddha.
Bhutan memiliki
sejumlah hari libur umum, sebagian berpusar pada festival musiman, sekuler, dan
keagamaan, yang termasuk Dongzhi(sekitar 1 Januari, menurut
sistem penanggalan berdasarkan peredaran Bulan), Tahun Baru menurut peredaran
Bulan (Februari atau Maret), hari UlTah Raja dan perayaan penobatannya,
permulaan musim monsun resmi (22
September), Hari Nasional (17
Desember), dan sejumlah perayaan Buddha dan Hindu. malahan hari libur sekuler
memiliki nada tambahan keagamaan,
termasuk tari keagamaan dan doa keselamatan hari.
Tari topeng dan
sendratari adalah segi tradisional umum pada festival, biasanya disertai dengan
musik tradisional. Tarian yang penuh semangat, mengenakan topeng kayu berwarna
dan kostum luwes, menampilkan pahlawan, setan, kepala
mati, hewan, dewa, dan karikaturorang awam. Para penari menikmati perlindungan kerajaan, dan
melestarikan adat rakyat dan keagamaan kuno dan mengabadikanpengetahuan dan seni kuno pembuatan topeng.
Bhutan hanya
memiliki 1 surat kabar pemerintahan (Kuensel) dan 2 surat kabar swasta yang
kini diluncurkan, 1 televisi milik pemerintah dan
2.4 KONDISI
PEREKONOMIAN
Bhutan
Kondisi
Perekonomian Bhutan
Meski menjadi salah satu yang terkecil di dunia, ekonomi Bhutan telah
berkembang pesat sekitar 8% pada 2005 dan 14% pada 2006. Per Maret 2006,
pendapatan per kapita Bhutan adalah US$1.321 yang
membuatnya tertinggi di Asia Selatan. Standar hidup Bhutan berkembang dan
merupakan salah satu yang terbaik di Asia Selatan.
Ekonomi Bhutan
adalah salah satu yang terkecil dan kurang berkembang di dunia, yang
berbasis pertanian, kehutanan, dan penjualan PLTA ke India. Pertanian menyediakan mata pencaharian buat lebih dari 80%
penduduk. Praktek agraria sebagian besar terdiri atas pertanian subsisten dan peternakan hewan. Kerajinan tangan, khususnya menjahit dan produksi seni keagamaan untuk
altar rumah merupakan industri kecil milik rakyat dan sumber sekian pendapatan.
Pemandangan yang berbeda dari pegunungan berbukit yang kasar membuat
pembangunan jalan dan infrastruktur lainnya sulit dan mahal. Ini, dan tiadanya akses ke laut, menyebabkan
Bhutan tidak pernah bisa dapat untung dari perdagangan yang signifikan dari
produknya. Kini Bhutan currently tak memiliki jalur kereta api, meski Indian Railways merencanakan menghubungan Bhutan selatan dengan jaringannya yang luas
di bawah persetujuan yang ditandatangani pada Januari 2005.[2] Jalur
perdagangan masa lalu antara peguunungan Himalaya, yang menghubungkan India
ke Tibet, telah ditutup sejak pengambilalihan militer atas Tibet pada 1959 (meski
kegiatan penyelundupan tetap membawa barang-barang RRT ke Bhutan).
Sektor industri
amat minim, produksinya termasuk jenis industri rakyat. Sebagian besar proyek pembangunan, seperti konstruksi jalan, brsandar
pada buruh kontrak India. Produk pertanian antara lain beras, lombok, produk
dari dairy (yak), soba, gerst, panenan akar, apel, dan pohon jeruk di
ketinggian rendah. Industri lain seperti semen,
produksi kayu, buah-buahan yang diproses, MiRas, dan kalsium
karbida.
Mata uang
Bhutan, ngultrum, ditautkan ke Rupee
India. Rupee juga diterima sebagai penawaran resmi di negeri itu. Pendapatan lebih dari Nu 100,000 per tahun dikenakan pajak, namun
penerima upah dan gaji yang amat sedikit memenuhi syarat. Tingkat inflasi
Bhutan diperkirakan sekitar 3% pada 2003. Bhutan memiliki Produk Domestik Bruto sekitar USD2.913 miliar
(diatur ke keseimbangan daya beli), menjadikan ekonominya terbesar ke-162 di dunia. Pendapatan per kapita
sekitar US$1.400 (€1.170), urutan ke-124. Jumlah penerimaan pemerintah €122 miliar (US$146 miliar),
meski jumlah ekspenditur €127 miliar (US$152 miliar).
Namun, 60%Templat:Inote ekspeditur
anggaran belanja, dibiayai oleh Kementerian Luar Negeri India.[3] Ekspor
Bhutan, khususnya listrik, kapulaga, gips, kayu, kerajinan
tangan, semen, buah, batu mulia dan rempah-rempah, total €128 miliar (US$154 miliar) (perkiraan tahun 2000). Namun, impor berjumlah sekitar €164
miliar (US$196 miliar), menimbulkan defisit perdagangan. Barang utama yang diimpor
termasukbahan
bakar dan minyak pelumas, gabah, mesin, kendaraan,
pabrik, dan nasi. Mitra ekspor utama Bhutan adalah India, terhitung sekitar 87,9% barang
ekspornya. Bangladesh(4,6%) dan Philipina (2%) ialah mitra ekspor terpentingnya setelah India. Karena
perbatasannya dengan Tibet ditutup, perdagangan antara Bhutan dan RRT hampir
tiada. Mitra impor Bhutan adalah India (71,3%), Jepang (7,8%)
dan Austria (3%).
Dalam
menanggapai tudingan pada 1987 oleh seorang wartawan dari Financial
Times (Britania
Raya) bahwa perkembangan di Bhutan
lambat, sang Raja berkata bahwa "Kebahagiaan
Nasional Bruto lebih penting daripada
Produk Domestik Bruto." [4] Pernyataan ini memberi pertanda penemuan terkini oleh para psikolog
ekonomi Barat, termasuk penerima Nobel 2002 Daniel
Kahneman, yang mempertanyakan hubungan
antara tingkat pendapatan dan kebahagiaan. Itu menandai komitmennya untuk
membangun ekonomi yang cocok buat budaya Bhutan yang unik, berdasarkan pada
nilai-nilai spiritual agama Buddha, dan telah berlaku sebagai visi persatuan
untuk ekonomi. Di samping itu, nampaknya kebijakan itu mendapat hasil yang
diharapkan seperti dalam survei terkini yang diatur oleh Universitas
Leicester [1] di Britania Raya, Bhutan diurutkan sebagai tempat paling bahagia ke-8
di bumi
2.5 Kegiatan
Pariwisata Bhutan
Bhutan adalah negara terakhir
yang dimiliki oleh dunia sebagai negara yang tidak tercemar polusi. Sebagian
besar dari negara tersebut masih ditutupi hamparan berwarna hijau nan asri
namun, Bhutan tidak hanya menawarkan keindahan alam tetapi juga aura spiritual
yang sangat kental lewat peninggalan biara-biara Buddhis.
Bhutan merupakan
negara Buddhis, hal ini bisa dilihat dari sejarah terbentuknya negara ini tidak
terlepas dari unsur Buddhis. Masyarakat Bhutan menyebut Bhutan adalah ‘Druk Yul’ atau ‘Tempat Naga’. Sebutan ini diberikan oleh seorang Bhiksu di Tibet. Konon ceritanya bahwa
Bhiksu tersebut mendengar suara naga untuk menyebarkan Buddha Dharma di satu
tempat dan ternyata tempat tersebut adalah Bhutan sekarang ini, maka Bhiksu
tersebut pun menyebut Bhutan adalah Druk Yul.
Ikon wisata
yang paling terkenal di Bhutan adalah Tiger’s Nest atau Taktsang Monastery yang percis berada pada tebing jurang yang
sangat terjal. Tiger’s Nest ini adalah sebuah biara
yang memiliki sejarah bahwa dulu Guru Padmasambhava bermeditasi di goa yang di
atas gunung tersebut dengan menaiki harimau terbang dari Tibet. Oleh karena
itulah, tempat tersebut oleh masyarakat Bhutan dianggap sangat sakral dan
kemudian pun dibangun biara dekat goa sakral tersebut. Selain itu, tempat
wisata yang tidak kalah menarik yaitu di pusat ibukotaBhutan, Thimpu, terdapat
rupang Buddha yang berukuran raksasa percis dibangun di kaki gunung, yang
disebut dengan Buddha Point. Dari puncak itu, para turis dapat melihat
keindahan serta keadaan lingkungan alam sekitar kota Thimpu.
Bhutan sugguh
merupakan suatu pilihan yang harus dipertimbangkan bagi kalian yang ingin
menikmati keindahan alam yang masih asri, dan yang paling terutama bagi kalian
yang ingin merasakan spiritual yang mendalam.
Paro
Taktsang
Rinpung
Dzong
Punakha
Dzong
Jomolhari
BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Bhutan Meski menjadi salah satu yang terkecil di dunia, ekonomi Bhutan telah
berkembang yang membuatnya tertinggi di Asia Selatan. Standar hidup Bhutan
berkembang dan merupakan salah satu yang terbaik di Asia Selatan. Bhutan ini dibatasi 2 negara atau “ landlocked” berbatasan
langsung dengan India dan China. Berada di kaki pegunungan Himalaya, menjadikan
Bhutan negara yang berbukit-bukit.Bhutan adalah
negara terakhir yang dimiliki oleh dunia sebagai negara yang tidak tercemar
polusi. Sebagian besar dari negara tersebut masih ditutupi hamparan berwarna
hijau nan asri.
Bhutan
ini negara kecil dengan populasi manusia yang belum jelas,
mereka tidak pernah nmengadakan sensus penduduk secara serius, jumlah
penduduknya diperkirakan 700.000 hingga 1.500.000 orang. Data terahir dari U.N
sih 2,3 juta orang. Menurut Wikipedia, Bhutan ini dibatasi 2 negara atau
“ landlocked” berbatasan langsung dengan India dan China. Berada di kaki
pegunungan Himalaya, menjadikan Bhutan negara yang berbukit-bukit,
Bhutan
merupakan negara Buddhis, hal ini bisa dilihat dari sejarah terbentuknya negara
ini tidak terlepas dari unsur Buddhis. Masyarakat Bhutan menyebut Bhutan
adalah ‘Druk Yul’ atau ‘Tempat Naga’. Sebutan ini diberikan oleh seorang Bhiksu di Tibet. Konon ceritanya bahwa
Bhiksu tersebut mendengar suara naga untuk menyebarkan Buddha Dharma di satu
tempat dan ternyata tempat tersebut adalah Bhutan sekarang ini
3.2 Saran
Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari
bahwa masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kelemah-lemahan dari
penulis dalam penulisa makalah ini baik itu kurangnya fasilitas seperti
buku-buku refrensi yang begitu terbatas dalam menjamin peyelesaian, sehingga
keritik dan saran yang bersifat konstruktif baik dari dosen maupun dari rekan –
rekan mahasiswa/i sangatlah diharpkan untuk membantu proses penulisan lebih
lanjut
Daftar Pustaka
http://chamzawi.wordpress.com/2008/07/26/islam-di-republik-demokratik-kongo/
http://ilonghe-jupriadi.blogspot.com/2009/10/republik-demokratik-kongo.html
http://ilonghe-jupriadi.blogspot.com/2009/10/republik-demokratik-kongo.html
http://education-all.blogspot.com/2011/07/makalah-negara-zaire.htmlhttp://jalan2.com/forum/topic/9210-belajar-bahagia-dari-negara- http://id.wikipedia.org/wiki/Bhutanbhutan/http://sejarahnasionaldandunia.blogspot.com/2014/01/tentang-negara-zaire-republik.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar